Penangan Blas Padi

2 komentar

Penyakit Blas Pada Tanaman Padi Dan Cara Pengendaliannya
Ciri tanaman yang terkena penyakit blas dan menyebabkan bulir padi hampa 

Gejala :
Bagian daun dan menimbulkan gejala penyakit yang berupa bercak coklat berbentuk belah ketupat yang disebut blas daun.
Pada fase pertumbuhan generatif/produksi  tanaman padi, gejala penyakit blas berkembang pada tangkai/leher malai disebut blas leher.

Gejala awal blas pada tanaman padi 

Penyebab :
Jamur P. Grisea ; satu siklus penyakit blas membutuhkan waktu kurang lebih 1 minggu, yaitu dimulai ketika spora jamur menginfeksi dan menghasilkan suatu bercak pada tanaman padi dan berakhir ketika jamur bersporulasi (menghasilkan spora baru) yang siap disebarkan  ke udara.

Faktor Penyebab :
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penyakit blas sperti tanah, pengairan, kelembaban, suhu, pupuk dan ketahanan varietas.
Pengendalian Penyakit Blas dengan Teknik Budidaya
  • Penanaman benih sehat
  •  Perendaman benih, benih di rendam selam 24 jam dengan perbandingan 30 kg benih dengan 1 Liter lrutan fungisida.  
  • Jarak tanam tidak rapat dan ada lorong untuk menghindari kelembaban
  • Pemupukan; hindari pengunaan urea yang berlebihan,
  • Penanaman varitas yang tahan blas
  • Penyemprotan fungisida sistemik sebaiknya 2 kali pada saat stadia tanaman anakan maksimum dan awal berbunga untuk mencegah penyakit blas daun dan blas leher terutama di daerah endemik.

Penggunaan Fungisida
Perlakuan benih dengan fungisida untuk pengobatan benih hanya bertahan selama 6 minggu,
“Benih yang sudah direndam selama 24 jam, diangin anginkan, campurkan 100 ml fungisida untuk 30 kg benih dengan 0,5 – 1 liter air, percikkan ke benih secara merata, dan diamkan benih selama 1 malam dalam karung”.
Penyemprotan dilakukan tanaman pada :
1.      Stadia anakan maksimal padi umur 45 HST
2.     Awal berbungga umur 60 HST
Kondisi Lahan Sebelum Penyemprotan :
“Usahkan air tidak banyak tergenang, agar kelembaban berkurang sehingga obat lebih efektif” Penyemprotan sebaiknya dilakukan di pagi hari setelah embun pagi hilang hingga jam 10 pagi dan penyemprotan sore hari setelah matahari tergelincir/Bakda Asar.
Tabel 1. Fungisida untuk pengendalian penyakit blas melalui penyemprotan
Nama Bahan 
(Bahan Aktif)
Nama Dagang
Dosis Formulasi /aplikasi
Isoprotiolan
Fujiwan 400 EC
1 lt
Trisiklazole
Dennis 75WP, Blas 200SC, Filia 252 SE
1 lt / kg
Kasugamycin
Kasumiron 25 WP
1 kg
Metil tiofanat
TOPSIN  500 SC
1 L / ha

Hasil uji coba penanganan serangan blas pada padi dengan kategori serangan mencapai 50% dilakukan penyemprotan dengan pola  :
  1. Hari 1 : Mengunakan Nordox diaplikasi SORE hari dgn dosisi ½ - 1 Sendok makan/tangki
  2.  Hari ke 4 : Penyemprotan TOPSIN dosis 2 tutup kecil / 10 ml per tangki.
  3. Hari ke 9 : Penyemprotan TOPSIN dosis 5 tutup kecil / 10 ml per tangki + 2 sdk mkn Apploud
  4. Hari ke 14 : Mengunakan Nordox diaplikasi SORE hari dgn dosisi ½ - 1 Sendok makan/tangki
  5. Penyemprotan selanjutnya mengunakan pupuk cair.
  6. Pengunaan pupuk Urea dibatasi dan diupayakan mengunakan Pupuk NPK. 

Pembelajaran Petani Melalui Demplot

0 komentar

Foto Kegiatan Tanam Simbolis di Kelompok Tani Ai Petung Kec. Taliwang Bersama Bupati Sumbawa Barat, Kepala DISHUBUNTAN Kepala BKP5K, DANRAMIL Taliwang, PT. Petrokimia Gresik dan PT. Petrokimia Kayaku 

Diskusi bersama Bupati Sumbawa Barat dan Petani

UPAYA PENINGKATAN PRODUKSI PADI, UPTB BP3K KECAMATAN TALIWANG KERJASAMA DENGAN PRODUSEN PT. PETROKIMIA GRESIK  DAN PT. PETROKIMIA KAYAKU DALAM PELAKSANAAN DEMPLOT.
Peningkatan produksi padi merupakan salah satu  target kegiatan UPSUS PAJELE, oleh karena itu pembelajaran dan pendampingan kepada petani selaku pelaku utama terus intensif dilakukan oleh penyuluh pertanian. Salah satunya adalah melakukan kerjasama dengan petani pada lokasi demonstrasi plot (demplot) yang diharapkan menjadi wahana pembelajaran langsung oleh petani pelaku dan petani yang  ada disekitarnya.  Untuk itu UPTB BP3K Kecamatan Taliwang melakukan kerjasama dengan Produsen Pupuk Petrokimia Gresik dan Produses obat tanaman padi PT. Petrokimia Kayaku. Untuk melaksanakan demplot di beberapa lokasi di kecamatanTaliwang.
Pada kegiatan tanam simbolis yang telah dilakukan di kelompok Ai Petung di Keluaraha Menala Kecamatan Taliwang yang langsung dihadiri Pejabat Sementara Bupati  Sumbawa Barat,  Kepala BKP5K , Kepala Dishubuntan, Danramil Taliwang, dan perwakilan dari PT. Petrokimia Gresik dan PT. Petrokimia Kayaku, serta perwakilan petani sekecamatan Taliwang, pada kesembapatan tersebut Bupati Sumbawa Barat menargetkan “setiap demplot yang dilaksanakan bersama petani, maka target produksi padi harus meningkat dan mencapai produksi diatas 10 ton / ha. Dan disampinggi itu penyuluh harus mendampingi secara maksimal, agar lokasi demplot bias menjadi wahana pembelajaran langsung oleh petani yang ada disekitarnya”  demplot merupakan tanggung jawab bersama antara petani pelaksana, penyuluh dan perakilan perusahaan ungkap Bupati Sumbawa Barat pada sambutannya.
Kerjasama Demplot PT Petrokimia Gresik  yang dilaksanakan kecamatan Taliwang tersebar di beberapa desa yang ada di kecamatan Taliwang. Demplot yang dilaksankan dengan perlakuan pemupukan berimbang dan pemberian Zn. Metode pemupukan berimbang 5:3:2 plus Zn yaitu Pupuk Organik 500Kg/hektar, Pupuk NPK 300Kg/hektar dan Pupuk Urea 200 Kg/hektar, serta pelakuan menggunakan  Zn 1 Kg/Ha, yang diharapkan dapat memberikan pengaruh pada pertumbuhan tanaman padi dan akhirnya dapat meningkatkan produksi padi.
“keberhasilan demplot merupakan tanggu jawab bersama dan besar harapan kami kedepannya PT Petrokimia Gresik dan PT. Petrokimia Kayaku bisa terus berpartisipasi dalam pemberdayaan petani dalam pengenalan produk pupuk dan obat obatan yang tepat untuk tanaman dan juga membantu dalam  penganalan pemupukan berimbang” Bupati Sumbawa Barat.  
kedepannya kami akan terus berupaya menjalin kerja sama dengan penyuluh, petani dan pihak terkait  untuk memperluas informasi yang berguna bagi patani”,ucap selles manajer wilayah Sumbawa PT. Petrokimia Kayaku Rahardian Disa. 

Menggagas Kegiatan Penyuluhan Efektif

0 komentar

Foto kegiatan penyuluhan masal di desa Lalar Liang Kec. Taliwang Kab. Sumbawa Barat 
Menonton bersama info penyuluhan dengan film penyuluhan 

Sejarah penyuluhan pertanian memberikan pengetahuan tentang latar belakang kegiatan-kegiatan penyuluhan pertanian dalam mendukung keberhasilan pembangunan pertanian.
Pengertian penyuluhan pertanian adalah proses pendidikan dengan sistem pendidikan nonformal untuk mengubah perilaku orang dewasa agar memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang lebih baik, sehingga sasaran dapat memilih dan mengambil keputusan dari berbagai alternatif pengetahuan yang ada untuk menyelesaikan permasalahan dalam upaya meningkatkan kesejahteraannya.
Konsep-konsep penting terkait dengan penyuluhan adalah :
  1. Proses pendidikan (dengan sistem pendidikan nonformal dan pendidikan orang dewasa),
  2. Proses perubahan (menuju perilaku yang lebih baik, sesuai yang diinginkan), dan
  3. Proses pemberdayaan (memiliki pengetahuan dan kemampuan baru).

Penyuluhan pertanian lebih luas dan lebih jauh dari sekedar kegiatan penerangan. Penyuluhan melibatkan proses komunikasi umpan balik dan ada evaluasi terhadap perubahan perilaku yang dicapai pada diri sasaran.
Penyuluh pertanian merupakan peran yang tidak mudah, harus mengubah usahatani dan perilaku petani beserta masyarakatnya. Seorang penyuluh harus memiliki kompotensi tertentu yang diperoleh dengan menguasai ilmu-ilmu pertanian, pendidikan, psikologi, komunikasi, sosiologi, kepemimpinan, antropologi, dan manajemen; serta ilmu-ilmu lain yang mendukung misal ilmu ekonomi.

Sebagai suatu kegiatan, penyuluhan pertanian dilakukan untuk mencapai suatu keinginan atau tujuan. Penyuluhan pertanian merupakan proses pendidikan non-formal bagi petani dan keluarganya. Tujuan penyuluhan pertanian adalah meningkatkan perilaku dan kemampuan petani sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya. Agar tujuan dapat dicapai melalui kegiatan yang tepat, maka rumusan tujuan harus memenuhi kriteria yang baik. Kriteria tujuan yang baik adalah spesifik (specific), menggambarkan arah yang akan dicapai; dapat diukur (measurable), dapat diketahui setiap kemajuan yang dicapai; dapat dicapai (achieveable), memiliki dimensi jarak (remoteness); realistis (realistic), memiliki kerangka jumlah dan jenis kegiatan yang dapat dicapai, memiliki jangka waktu (time bond) sehingga dapat ditentukan lama pencapaiannya, serta menjadi "motivasi" yaitu pernyataan tujuan harus dapat menggambarkan dengan jelas "kebutuhan" dari orang-orang yang terlibat dalam pencapaian tujuan.
Dari uraian konsep orang dewasa, maka rumusan tujuan penyuluhan pertanian sebagai proses pendidikan seharusnya disesuaikan dengan cara belajar orang dewasa, yaitu :
  1. cara belajar yang langsung dari pengalaman petani;
  2. proses belajar yang terjadi antara penyuluh dan petani dengan kedudukan sama;
  3. proses belajar yang dikembangkan atas dasar kebutuhan belajar akibat tuntutan situasi setempat yang terus berubah; dan 
  4. suatu proses belajar yang bersifat self-learning dan kemandirian warga belajar yang berlangsung dalam situasi kehidupan yang nyata yang dituntut untuk dapat diimplikasikan dalam kegiatan penyuluhan.


Keberhasilan penyuluhan pertanian ditentukan pula oleh profesionalitas penyuluh, yang memiliki tugas utama sebagai pembimbing, pendorong, motivator, komunikator, dan lain-lain.
  
Jika dikaitkan dengan peran penyuluh, maka falsafah ini menekankan peran penyuluh sebagai motivator, fasilitator, dan partner.

MARI TINGKATKAN MUTU SAPI BALI MELALUI INSEMINASI BUATAN

0 komentar

MARI TINGKATKAN MUTU SAPI BALI MELALUI INSEMINASI BUATAN
 

Inseminasi Buatan (IB) atau sering disebut Kawin untik adalah, tehnik memasukan mani atau semen 
kedalam alat reproduksi ternak betina sehat untuk dapat membuahi sel telur dengan
menggunakan alat inseminasi buatan dengan tujuan agar ternak bunting.
Program Inseminasi Buatan mempunyai peran yang sangat strtegis dalam usaha
meningkatkan kualitas dan kuantitas bibit. Dalam rangka meningkatkan 
produksi dan produktivitas ternak,teknologi IB salah satu upaya penyebaran bibit unggul 
yang memiliki nilai praktis dan ekonomis yang dapat dilakukan dengan 
mudah,murah dan cepat.

Teknologi IB memberikan keunggulan antara lain :
§  bentuk tubuh lebih baik, 
§  pertumbuhan ternak lebih cepat, 
§  tingkat kesuburan lebih tinggi, 
§  berat lahir lebih tinggi 
Melalui teknologi IB diharapkan secara ekonomis dapat memberikan nilai tambah dalam pengembangan usaha peternakan.


KEUNTUNGAN INSEMINASI BUATAN.

1.       Dapat menghasilkan keturunan anak yang baik danberkwalitas karena menggunakan sperma dari 
        pejantan yang unggul.
2.       Peternak tidak perlu memelihara pejantan, sehingga biaya pakan maupun
       waktu untuk memelihara pejantan dapat digunakan untuk keperluan lain.
3.       Dapat menghindari cacat pada kelahiran anak.
4.       Mencegah terjadinya penularan penyakit yang disebarkan melalui perkawinan alami.
5.       Dapat memperpendek jarak kelahiran ( Calving Interval )
6.       Menghindari ternak sapi betina mengalami kecelakaan dalam melakukan
       perkawinan alami bila pejantan yang digunakan terlalu besar.


WAKTU YANG TEPAT UNTUK INSEMINASI BUATAN.

Waktu yang tepat untuk melakukan IB pada ternak sapi adalah, 15 S/d 18 Jam setelah sapi menunjukan gejala berahi karena pada saat tersebut sel telur sudah mencapai saluran tuba falopii
yaitu saluran tempat penyatuan seltelur dengan sperma yang diikuti dengan proses pembuahan. 



GEJALA GEJALA BERAHI PADA TERNAK SAPI.

Pada umumnya gejala -gejala berahi pada 
ternak adalah sebagai berikut;

1.       Kemaluan bagian luar (Vulva ) ternak berwarna merah.
2.       Bila dicermati kemaluan tersebut membengkak.
3.       Bila diraba kemaluan terasa hangat.
4.       Dari kemaluan keluar lendir.bening dan transparan
5.       Gelisah dan kurang nafsu makan.


PELAKSANAAN INSEMINASI BUATAN.

Petugas pelaksana inseminasi buatan adalah petugas yang telah dilatih untuk melakukan IB
yang dilengkapi dengan 
SIMI ( Surat Ijin Inseminasi Buatan ).
Petugas IB bertugas pada Satuan Pelaksana Inseminasi Buatan (SP-IB ) di masing-masing Kab/Kota dan Kecamatan.
Untuk Kecamatan Taliwang Petugas IB bergabung pada
Satuan KCD Peternakan Kecamatan Taliwang.


PERLAKUAN ATAU TINDAKAN SETELAH SAPI DI IB.

1.       Memberikan pakan yang berkualitas dan cukup  jumlah.
2.       Hindarkan ternak dari stes.
3.       Berikan ternak air yang cukup
4.       Jangan pekerjakan ternak dengan beban berat.
5.       Perhatikan ternak dengan penuh kasih sayang.


FAKTOR -FAKTOR YANG MEMPENGARUHI 
KEGAGALAN IB.

Ada beberapa faaktor yang dapat mempengaruhi 
terjadinya kegagalan dalam pelaksanaan IB pada ternak sapi yaitu;
1.       Kondisi kesehatan sapi betina yang di IB ,Betinayang kondisinya sehat
       ( Sebelum dan setelah di IB ) akan mampu memelihara kebuntingannya
        sampai melahirkan dengan baik.
2.       Ketepatan waktu Pelaksanaan IB.
3.       Mutu semen beku yang digunakan , semen beku 
yang digunakan hendaknya mendapatkan penanganan yang benar mulai saat produksi, penyimpanan dan distribusi sampai ditingkat lapangan.
4.       Ketrampilan petugas IB sangat mempengaruhi 
keberhasilan IB. Makin trampil petugas IB ,makin 
kecil resiko kegagalannya














    Gambar  : Proses kelahiran sapi hasil IB


Menghitung Ubinan Tanaman Padi

1 komentar

Untuk menghitung perkiraan produksi panen padi biasanya digunakan 2 cara yaitu :
1. UBINAN
Alat/bahan yang perlu dipersiapkan : set alat ubian atau meteran, tali, ajir, sabit/sabit bergerigi, terpal, tampah, karung dan timbangan.Waktu ubinan yang terbaik jam 9-12 siang.
Cara ubinan : 
  • Pilih 2 lokasi yang akan dijadikan tempat ubinan (misal titik A dan B)
  • Ukur menggunakan meteran kedua lokasi tersebut dengan jarak panjang dan lebar masing-masing 2,5 meter
  • Beri tanda hasil pengukuran dari kedua lokasi tersebut menggunakan alat ubinan, ajir atau  tali
  • Panen lokasi yang sudah diberi tanda menggunakan sabit/sabit bergerigi
  • Rontokan gabah dari malainya pada tempat yang telah diberi alas terpal
  • Bersihkan kotoran yang ada pada gabah menggunakan tampah
  • Timbang hasil dari kedua lokasi ubinan tersebut (misal titik A= 4,5 kg dan titik B= 5 kg)
Cara menghitung ubinan :
Misal dari hasil timbangan diatas adalah titik A= 4,5 kg dan titik B= 5 kg
Maka untuk menghitungnya adalah : 
  • Jumlahkan dahulu hasil timbangan kedua titik kemudian dibagi 2 -- (4,5 kg + 5 kg) : 2 = 5,25 kg
  • Karena jarak ubinannya 2,5m x 2,5m maka luas ubinan adalah 6,25m2
  • Rumus ubinan/perkiraan = hasil rata-rata timbangan x (10.000 m2 : luas ubinan)
  • Perkiraan produksinya = 5,25 kg x (10.000 m2 : 6,25 m2) -- 5,25 kg x 1.600 = 8.400 kg/Ha GKP
  • Jadi hasil perkiraan produksi adalah 8.400 kg/Ha atau 8.4 ton/Ha GKP
 2. MENGHITUNG 4 FAKTOR PENTING DALAM KEGIATAN UBINAN
     4 Faktor penting yang harus di hitung tersebut adalah :
  1. Jarak tanam
  2. Jumlah anakan per rumpun
  3. Jumlai bulir per malai
  4. Jumlah bobot atau gram per 1000 bulir
Caranya pertama kita harus menentukan 2 lokasi atau titik seperti diatas (misal titik A dan titik B). Jumlah populasi atau rumpun kalau jarak tanam 25x25cm adalah 160.000 rumpun/Ha, bulir yang dihitung adalah bulir yang ada isinya bukan yang hampa. 
Misal lokasi 1:
- Jumlah anakan per rumpun ada 15 anakan
- Jumlah bulir per malai ada 110 bulir
- Jumlah gram per 1000 bulir -- misal rata-rata sekitar 30 gram
Misal lokasi 2 :
- Jumlah anakan per rumpun ada 17 anakan
- Jumlah bulir per malai ada 120 bulir
- Jumlah gram per 1000 bulir -- misal rata-rata sekitar 30 gram

Rata-rata dari kedua lokasi adalah:
 - Jumlah anakan per rumpun : (15+17):2 = 16 anakan
- Jumlah bulir per malai : (110+120):2 = 115 bulir
- Jumlah gram per 1000 bulir : (30+30):2 =30/1000 

Rumus = (jumlah rumpun per Ha) x (jumlah anakan) x (jumlah bulir) x (berat per 1000 bulir)
             = (160.000) x (16) x (115) x (30/1000)
             = 8.832.000 gram -- 8.832 kg/Ha
             = 8,832 ton/Ha GKP

Konversi GKP ke GKG dan GKG ke Beras
Nilai konversi tiap provinsi berbeda-beda, seperti data di bawah ini : 
 
 Sumber : BPS

Contoh konversi : Untuk NTB 
Dari hasil ubinan didapat 8,4 ton/Ha GKP
Maka untuk GKG = 8,4 ton GKP x 82,74 % = 6.95 ton GKG ( Nilai GKP ke GKG didapat dari tabel) 
Sedangkan untuk beras = 6.95 ton GKG x 62,74% = 4,36 ton beras
untuk angka konversi dari GKG ke Beras diperoleh 62.74 % yang sering disebut rendemen pengilingan lapangan merupakan angka yang dirilis oleh BPS dan direktorat jendral Pengolahan dan Pemasaran Hasil pertanian, Kementrian Pertanian. Angka tersebut merupakan hasil survei Susut panen dan pasca panen yang dilakukan BPS tahun 2005 s.d 2007. ( disperta.jambiprov.go.id) 

angkutan go green

1 komentar


Paud Bukit Lempayan "CSR Tata Motors Indonesia"

1 komentar


 
  • Media Penyuluhan © 2012 | Designed by Rumah Dijual, in collaboration with Web Hosting , Blogger Templates and WP Themes